"Masih ditutup meskipun mulai ada perubahan cuaca. Kami baru akan buka setelah diyakini tinggi gelombang dan kecepatan angin diyakini tidak berbahaya bagi kapal penyeberangan," kata Kepala PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Sape, Jumono yang dihubungi dari Mataram, Minggu.
Jumono mengaku masih mengacu kepada imbauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa tinggi gelombang di rute penyeberangan itu, masih berkisar 2,5 - 3,0 meter, dan kecepatan angin juga masih berkisar 25-30 knot.
Saat rute penyeberangan Sape-Labuan Bajo ditutup 13 Maret 2012, tinggi gelombang rata2 mencapai empat meter, dan kecepatan angin berkisar 20 hingga 50 knot.
"Sudah ada perubahan cuaca tetapi masih bahaya bagi kapal-kapal penyberangan. Apalagi untuk rute panjang seperti Sape-Labuan Bajo yang lebih dari delapan jam," ujarnya.
Dalam kondisi normal, setiap hari, PT Indonesia Feri Cabang Sape memberangkatkan satu unit kapal penyeberangan ke Labuan Bajo, kemudian menempuh rute ke Waikelo, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan kembali ke Sape.
Menurut Jumono, penyeberangan Sape-Labuan Bajo berbeda dengan rute penyeberangan lainnya di wilayah NTB.
Rute penyeberangan Lembar (Lombok) ke Padangbai (Bali) sepanjang 35 mil dengan waktu tempuh 4-5 jam, dan Rute Kayangan-Poto Tano sepanjang 12 mil dengan waktu tempuh 45 menit hingga satu jam.
"Lembar-Padangbai hanya 4-5 jam. Kayangan-Poto Tano 45-60 menit. Sementara Sape-Labuan Bajo lebih dari delapan jam. Tentu jarak tempuh patut dipertimbangkan dalam kondisi cuaca yang tidak normal," ujarnya.
Karena itu, tambah Jumono, pihaknya tidak memberlakukan sistem buka-tutup seperti rute Lembar-Padangbai, apalagi rute Kayangan-Poto Tano, karena jarak tempuh penyeberangan itu.
Pihaknya baru akan membuka lintasan penyeberangan Sape-Labuan Bajo, jika cuaca buruk dipastikan telah berlalu, yang mengacu kepada laporan BMKG.
Berbeda dengan rute Lembar-Padangbai yang sudah mulai dibuka kembali pada Minggu (18/3) setelah ditutup total 13 Maret lalu, namun tetap memberlakulkan sistem buka-tutup.
Demikian pula rute Kayangan-Poto Tano yang juga mulai dibuka kembali, karena tinggi gelombang tidak lagi membahayakan kapal penyeberangan.