BOGOR-Proyek pedestrian di Jalan Nyi Raja Permas dinilai kurang berjalan
maksimal. Kendati menjadi proyek percontohan dari Kementerian
Perhubungan (Kemenhub), nampaknya keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di
sepanjang Stasiun Bogor membuat program tersebut tak berjalan lancar.
Pemkot Bogor belum bisa memberikan jaminan kapan Nyi Raja Permas akan bersih dari PKL, sembari menunggu pembangunan pedestrian rampung. Saat proyek ini dimulai, seharusnya tidak boleh ada kendaraan atau PKL yang masuk ke wilayah ini.
Namun, masih banyak PKL yang berjualan di lokasi seperti sebelum proyek dikerjakan. Begitu pula angkutan kota dan kendaraan lain yang bebas keluar masuk.
“Awalnya sempat dijaga petugas DLLAJ dan Satpol PP, tapi hanya beberapa hari. Setelah itu angkot dan pedagang tetap berada di sini,” kata salah satu warga, Muhammad Deni (34), kemarin.
Konsultan Proyek dari German Development Cooperation, Tedy Murtejo, mengaku masih belum bisa menentukan lokasi pedestrian bersih dari PKL atau belum. Sebab, pemkot belum memiliki formulasi lengkap soal penataan PKL. “Kita belum tahu kapan pembangunan akan terbebas dari PKL,” ujarnya.
Ia mengatakan, hal itu akan dikaji terus hingga Pemkot Bogor menemukan lahan strategis untuk relokasi PKL. “Lokasi pedestrian sebenarnya untuk mengakomodasi pejalan kaki dan juga sebagai areal jalur terbuka hijau di sepanjang Nyi Raja Permas,” imbuhnya.
Tedy menjelaskan, proyek dengan dana Rp1,7 triliun ini rencananya selesai pada Oktober nanti dengan panjang sekitar 600 meter.
Setelah itu, akan dilanjutkan dengan proyek tahap dua yakni dari Taman Topi hingga ke Istana Bogor. “Untuk tahap
kedua, masih berupa desain lanjutan di Kemenhub. Jadwal lelangnya pun belum dapat,” sebutnya.
Diharapkan Tedy, kawasan tersebut nantinya akan menjadi semacam citywalk dengan batu andesit 4,1 meter dari total panjang sekitar 11,75 meter. Pembuatan fasilitas pejalan kaki itu mengambil konsep menyerupai jalur pedestrian yang ada di Amerika dan Eropa.
“Masyarakat nantinya bukan hanya bebas berjalan kaki tanpa khawatir tertabrak kendaraan, tapi juga bisa menikmati keindahan taman kota, karena akan dilengkapi dengan bangku serta taman kota,” terangnya.
Disebutkannya, desain kemungkinan menyesuaikan dengan bangunan Stasiun Bogor yang merupakan peninggalan Belanda. Dipilihnya Nyi Raja Permas sebagai lokasi pedestrian karena Stasiun Bogor melayani lebih dari 80 ribu penumpang per hari.
Sehingga jalan tersebut selalu dipadati masyarakat dan angkutan umum. Seharusnya, saat proyek ini nanti jadi, seluruh kendaraan tidak boleh masuk ke area ini. Begitu pula dengan para PKL.
Sebelumnya, Asisten Tata Praja Ade Sarif Hidayat mengatakan, ketika proyek ini berjalan maka tidak ada lagi angkot dan PKL di sekitar Nyi Raja Permas. Sebab, di lokasi akan mulai dilakukan pemasangan celukan sepanjang 200 meter.
Pemkot Bogor belum bisa memberikan jaminan kapan Nyi Raja Permas akan bersih dari PKL, sembari menunggu pembangunan pedestrian rampung. Saat proyek ini dimulai, seharusnya tidak boleh ada kendaraan atau PKL yang masuk ke wilayah ini.
Namun, masih banyak PKL yang berjualan di lokasi seperti sebelum proyek dikerjakan. Begitu pula angkutan kota dan kendaraan lain yang bebas keluar masuk.
“Awalnya sempat dijaga petugas DLLAJ dan Satpol PP, tapi hanya beberapa hari. Setelah itu angkot dan pedagang tetap berada di sini,” kata salah satu warga, Muhammad Deni (34), kemarin.
Konsultan Proyek dari German Development Cooperation, Tedy Murtejo, mengaku masih belum bisa menentukan lokasi pedestrian bersih dari PKL atau belum. Sebab, pemkot belum memiliki formulasi lengkap soal penataan PKL. “Kita belum tahu kapan pembangunan akan terbebas dari PKL,” ujarnya.
Ia mengatakan, hal itu akan dikaji terus hingga Pemkot Bogor menemukan lahan strategis untuk relokasi PKL. “Lokasi pedestrian sebenarnya untuk mengakomodasi pejalan kaki dan juga sebagai areal jalur terbuka hijau di sepanjang Nyi Raja Permas,” imbuhnya.
Tedy menjelaskan, proyek dengan dana Rp1,7 triliun ini rencananya selesai pada Oktober nanti dengan panjang sekitar 600 meter.
Setelah itu, akan dilanjutkan dengan proyek tahap dua yakni dari Taman Topi hingga ke Istana Bogor. “Untuk tahap
kedua, masih berupa desain lanjutan di Kemenhub. Jadwal lelangnya pun belum dapat,” sebutnya.
Diharapkan Tedy, kawasan tersebut nantinya akan menjadi semacam citywalk dengan batu andesit 4,1 meter dari total panjang sekitar 11,75 meter. Pembuatan fasilitas pejalan kaki itu mengambil konsep menyerupai jalur pedestrian yang ada di Amerika dan Eropa.
“Masyarakat nantinya bukan hanya bebas berjalan kaki tanpa khawatir tertabrak kendaraan, tapi juga bisa menikmati keindahan taman kota, karena akan dilengkapi dengan bangku serta taman kota,” terangnya.
Disebutkannya, desain kemungkinan menyesuaikan dengan bangunan Stasiun Bogor yang merupakan peninggalan Belanda. Dipilihnya Nyi Raja Permas sebagai lokasi pedestrian karena Stasiun Bogor melayani lebih dari 80 ribu penumpang per hari.
Sehingga jalan tersebut selalu dipadati masyarakat dan angkutan umum. Seharusnya, saat proyek ini nanti jadi, seluruh kendaraan tidak boleh masuk ke area ini. Begitu pula dengan para PKL.
Sebelumnya, Asisten Tata Praja Ade Sarif Hidayat mengatakan, ketika proyek ini berjalan maka tidak ada lagi angkot dan PKL di sekitar Nyi Raja Permas. Sebab, di lokasi akan mulai dilakukan pemasangan celukan sepanjang 200 meter.
Sumber : radar bogor