
seragam warna cokelat, puluhan dalmas ini mengumandangkan 'syi'ir tanpo waton' milik almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Praktis, syair yang populer di kalangan nahdliyin itu bergema di Polres Jombang.
"Ngawiti ingsun, nglaras syi'iran. Kelawan muji maring pengeran. Kang paring rohmat lan kenikmatan, rino wengine tanpo pitungan-rino wengine tanpo pitungan. Duh poro konco, prio wanito. Ojo mung ngaji syare'at bloko, gur pinter ndongeng nulis lan moco, tembeh mburine bakal sengsoro," demikian syair itu dikumandangkan secara berulang-ulang.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang, AKP Sugeng Widodo mengatakan,
latihan 80 dalmas itu untuk melatih ketangkasan dalam menghadapi aksi massa. Karena cara-cara yang dilakukan tidak lagi mengedepankan kekerasan. Untuk menenangkan massa, salah satu caranya adalah dengan mengumandangkan 'syi'ir tanpo waton'-nya Gus Dur.
Selain itu, lanjut Widodo, latihan tersebut juga dalam rangka mengikuti lomba dalmas yang digelar di Mapolda Jatim minggu depan. "Alhamdulillah, kita masuk dalam 10 besar dalam lomba dalmas se-Polda Jatim," kata Widodo saat mendampingi puluhan dalmas menghafal syair Gus Dur.
Hal senada juga dilontarkan Kasat Sabhara Polres Jombang, AKP Haryono. Dipilihnya 'syair tanpo waton' Gus Dur dalam menghalau massa bukan tanpa alasan. Menurut Haryono, Gus Dur merupakan ikon Jombang dan juga kaum nahdliyin. "Sehingga penampilan dalmas Jombang akan lain dari yang lain," ujarnya.
Yang tidak kalah penting, lanjut Haryono, dengan dikumandangkan syair religius tersebut anggota Polres lebih mampu mendekatkan diri pada sang pencipta. "Semua anggota sudah hafal syiir Gus Dur. Semoga dalam lomba dalmas di Polda, kami mampu menyisihkan 10 Polres lainnya yang notabene masuk dalam 10 besar di Jatim," pungkasnya.