BANDA ACEH – Dari data yang diperoleh dari posko petugas pemantau di Terminal Terpadu Banda Aceh, hingga Sabtu (27/8/2011) malam tercatat, 208 unit bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan 369 unit minibus L-300 telah mengangkut 9.420 pemudik dengan berbagai kota tujuan.
Petugas dari Dinas Perhubungan menyebutkan pemudik dengan bus AKAP dominan bertujuan Medan, Sumatera Utara. Sementara pemudik dengan minibus mayoritas bertujuan daerah di pantai barat selatan Aceh. Jumlah pemudik dipastikan terus bertambah karena puncak arus mudik di Aceh diperkirakan terjadi pada dua hari menjelang Lebaran.
Meski sudah dipadati pemudik, hingga kini belum ada penumpukan penumpang di terminal yang terletak di kawasan Batoh itu. “Semuanya masih sangat lancar,” kata Kapolda Aceh Irjen Iskandar Hasan disela memantau arus mudik di sana, tadi malam.
Hingga hari ini, lanjut Iskandar, kelancaran arus mudik di Aceh tak hanya pada angkutan darat, namun pada angkutan laut juga belum ada kendala berarti.
Di Terminal Terpadu Banda Aceh, setiap sopir yang mengangkut penumpang diwajibkan mengikuti tes urine, untuk memastikan kesehatan dan kadar alkohol dalam tubuhnya. Petugas Jasa Rahardja membekali setiap sopir yang lulus uji urine dengan selembar surat keterangan yang harus diperlihatkan lagi pada petugas saat keluar terminal.
Polda Aceh telah mengerahkan 3.430 personel untuk mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran 2011. Dibantu 1.790 TNI, mereka mengamankan 100 titit rawan kecelakaan dan 140 titik rawan kemacetan yang tersebar di seluruh Aceh.
Polda Aceh juga menyiapkan pasukan pengamanan khusus pemudik roda dua secara gratis. Personel ini ditempatkan di setiap pintu keluar masuk kota di provinsi tersebut. Pemudik dapat meminta pengawalan secara langsung dari petugas untuk kenyamanan perjalanan.
“Jangan segan-segan meminta pengaman, itu petugas sudah dipersiapkan. Mereka siap mengawal pemudik roda dua. Datang aja rame-rame pake motor, sampai di gerbang kota minta aja di kawal pasti mau, yang penting mudik bisa nyaman,” ujar Iskandar.
Menurutnya, hal ini dilakukan karena pemudik dengan sepeda motor lebih rawan tertimpa kecelakaan dan aksi kriminalitas, dibanding pemudik dengan angkutan umum.