Ditengah-tengah segala permasalahan yang tengah dihadapi negara ini, baik sosial ekonomi, politik, hukum dan budaya mempelajarinya dan menguraikannya kedalam permasaalahan pokok dalam kaitannya perbaikan bangsa seutuhnya.
Korlantas Polri selaku pengayom masyarakat memberikan gebrakan, untuk mengajak seluruh masyarakat ikut andil dalam wacana pemahaman di era reformasi melakukan respon positif terhadap pilihan yang harus diikuti oleh seluruh warga negara baik lainnya. Kaitannya dengan Kamseltibcarlantas Korlantas menggaungkan gerakan nasional pelopor keselamatan berlalulintas, dan telah diresmikan oleh kepala negara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu, 26/1/04.
Peresmian GNPKB secara resmi dibuka oleh Presiden Yudhoyono dengan menekan tombol sirene, dan didampingi Wakil Presiden Boediono serta Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. selanjutnya dengan melakukan pelepasan balon ke udara.
Pidato kepala negara dalam kesempatan ini turut mengajak seluruh komponen masyarakat untuk dapat merespon serta berpartisipasi guna mencegah atau setidaknya mengurangi terjadinya kecelakaan berlalu lintas. Kecelakaan berlalu lintas, kini telah menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena semakin banyaknya korban jiwa akibat kecelakaan yang terjadi.
Beliau menyampaikan "Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, komponen bangsa, dan masyarakat luas mari dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya sekuat tenaga kita untuk mencegah paling tidak mengurangi secara signifikan kecelakaan lalu lintas, semua turut bertanggung jawab, semua ikut bertugas, berupaya,".
Lain halnya dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia menyampaikan bahwa organisasi kesehatan dunia di bawah PBB (WHO) telah mencanangkan dasawarsa keselamatan di jalan raya mengingat tingginya angka kecelakaan jalan raya. WHO mencatat, 1,2 juta jiwa meninggal dunia dalam kecelakaan jalan raya setiap tahunnya dan 50 juta orang korban kecelakaan mengalami luka serius maupun cacat tetap.
Kondisi seperti itu, dalam catatan WHO, jumlahnya lebih tinggi daripada korban perang. Dalam delapan tahun Perang Teluk tercatat ada korban meninggal 1,2 juta jiwa, atau sekitar 150.000 per tahunnya.
Hal itulah, menurut Sutarman, yang mendorong WHO mencanangkan gerakan dasawarsa keselamatan jalan raya pada 2011 hingga 2020 dengan target mengurangi jumlah korban mencapai 50 persen.
Di Indonesia, dikemukakannya, 25.000 lebih jiwa meninggal pada tahun 2013, atau turun dibandingkan 2012 yang mencapai 27.000 jiwa meninggal. Angka tersebut membuat rata-rata meninggal dunia akibat kecelakaan sekitar 80 orang per hari atau sekitar empat orang per hari. Untuk itulah, Sutarman menyatakan, pihaknya terus meningkatan upaya mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Tambahnya lagi.
Sejumlah upaya telah dilakukan diantarannya mendorong pengetahuan tentang keselamatan di jalan raya kepada masyarakat melalui sekolah-sekolah dan kampus, memperbaiki mekanisme pembuatan surat izin mengemudi, serata memperbaiki analisis data-data kecelakaan. Pencanganan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas tersebut juga merupakan upaya lebih lanjut untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya. Pencanangan tersebut juga dilakukan serentak di seluruh polda di Indonesia.
Sempat dalam acara tersebut Presiden Yudhoyono dalam acara tersebut juga melakukan konferensi jarak jauh melalui video dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah dan Jawa Timur terkait dengan kesiapan mereka terhadap Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas.