Kasi Rekayasa Lalin Dishub Surabaya, Tunjung Iswandaru menjelaskan, selama ini seminggu nanti akan terus kita evaluasi. Dari hasil evaluasi itu, apa-apa yang kurang akan kita benahi,” ungkapnya
Perubahan lalin ini adalah mengembalikan jalur lama. Jalan yang selama ini searah kembali dibuat dua arah. Bedanya, dalam perubahan sekarang disertai dengan rekayasa lalin lainnya. Yakni kendaraan dari Jl Mayjen Sungkono yang masuk ke Jl Hayam Wuruk tidak boleh masuk ke KFC atau Sutos. Untuk masuk ke dua lokasi ini, kendaraan harus memutar di Jl Adiytawarman dan putar balik tikungan Jl Ciliwung (depan Bakso Solo).
Selanjutnya, untuk ke KFC, kendaraan bisa belok di pintu masuk, sedangkan untuk ke Sutos, masuknya lewat samping RM Nur Pasific.
Untuk memudahkan pengaturan lalin, Dishub memasang pagar pembatas plastik warna oranye. “Tujuannya agar tidak ada penumpukan kendaraan di titik ini sebab pintu masuk KFC dan Sutos ini berdekatan dengan traffic light,” terus Tunjung.
Secara umum, perubahan lalin dari searah menjadi dua arah ini relatif belum diketahui masyarakat. Kendaraan di jalan ini masih didominasi dari Jl Adityawarman atau Jl Mayjen Sungkono menuju Jl Gunungsari. Bahkan banyak kendaraan dari jalur ini yang mengambil lajur paling kanan karena berpikiran arah jalan masih searah.
Selain itu, kendaraan dari Jl Gunungsari yang arah ke Jl Mayjen Sungkono banyak yang tetap lurus ke Jl Joyoboyo. Untuk menuju Jl Mayjen Sungkono, kendaraan putar di Jl Diponegoro dan Jl Ciliwung. Menurut Tunjung, hal itu merupakan tugas Dishub untuk “woro-woro” ke masyarakat.“Masyarakat harus tahu bahwa Jl Hayam Wuruk sudah dibuka dua arah,” terang dia.
Sementara itu Kepala Dishub Eddi mengatakan untuk normalisasi arus lalin, pihaknya telah membongkar sejumlah gundukan aspal atau biasa disebut “polisi tidur” di sepanjang Jl Hayam Wuruk. Hanya ada satu gundukan kecil yang tetap dibiarkan yakni tepat di depan pintu masuk markas Polisi Militer (PM).
“Sebagai gantinya, Dishub memasang empat aspal kejut di empat titik yang berbeda,” ungkap Eddi.
Perubahan arus lalu lintas (lalin) dari searah menjadi dua arah ini setelah melalui kajian cukup lama dari Dishub. Alasannya dengan dibuat searah, ternyata terjadi penumpukan kendaraan di sekitar terminal Joyoboyo. Sebab volume kendaraan dari Jl Gunungsari kres dengan dengan kendaraan dari Jl Ahmad Yani. Imbasnya, di kawasan ini sering terjadi kemacetan.
Pada titik ini, kategori lalinnya masuk dalam kriteria E dan F. Di sekitar Kebun Binatang Surabaya, V/C ratio kendaraan adalah 0,87, sedangkan di Jl Joyoboyo adalah 1,36. Kategori E adalah kondisi lalin berada pada kondisi arus tidak stabil dan kecepatan kadang berhenti. Sedangkan kategori F adalah macet, kecepatan rendah, volume di bawah kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan besar.
Menurut Eddi, kajian itu juga sesuai dengan keinginan pihak Kodam V/Brawijaya. Pihak Kodam melayangkan surat nomor B/331/III/2012 pada tanggal 6 Maret 2012 tentang permohonan bantuan perubahan arus lalu lintas pada Jl Hayam Wuruk.