“Kemacetan di Jalan Semanan Indah sekitar Cengkareng Barat sebelumnya sangat parah akibat adanya perlintasan sebidang dengan perlintasan kereta api. Diharapkan dengan adanya fly over ini persoalan tersebut bisa teratasi,” katannya usai meresmikan fly over tersebut, kemarin.
FO Rawabuaya memiliki panjang 929 m dengan lebar 8 m terdiri dari dua jalur. Pekerjaan proyek didanai dari APBN dengan sistem kontrak tahun jamak selama 20 bulan. Yakni dimulai Oktober 2010 hingga Juni 2012. Sebelumnya, FO Rawabuaya telah telah dilakukan uji laik fungsi.
Djoko optimis penanganan kemacetan secara bertahap dapat ditangani. PU bersama pemerintah daerah melalui instansi terkait melakukan langkah-langkah konktrit dalam mengatasi kemacetan. Diantaranya dengan membangun fly over seperti di Rawa Buaya ini.
Menteri PU mengakui rasio jalan dengan jumlah kendaraan di Jakarta masih sangat jauh yang berdampak timbulnya kemacetan. Sehingga kedepan perlu lebih ban76yak lagi pembangunan jalan, flyover ataupun underpass di Jakarta. “Rasio jalan di Jakarta baru sekitar 6%, padahal rasio normal ketersediaan seharusnya sekitar 20% agar kemacetan bisa ditanggulangi.
Untuk itu, PU berkoordinasi dengan pemda dalam melakukan kajian mengenai kemungkinan pembangunan jalan, underpas maupun flyover di Jakarta. Saat ini, kementerian PU sudah banyak membangun flyover ataupun underpass di Jakarta, dalam upaya mengurangi kemacetan termasuk menghilangkan konflik di titik pertemuan simpang sebidang rel kereta api. Langkah itu antara lain dilakukan di jembatan layang Cengkareng, jembatan layang Sudirmanm Cileduk dan masih membangun jaringan jalan di kawasan Jabodetabek diantaranya WI dan W2.
“Kita harapkan jalan tol JORR W2 (Kebon Jeruk-Ulujami) dan Tol Akses Tanjung Priok yang sedang dalam proses konstruksi bisa ikut mengurangi beban kemacetan Jakarta,” kata Menteri PU.
Sementara itu, Direktur Jendral Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto mengatakan, FO Rawabuaya ini nanti untuk mengurangi kemacetan di jalan lingkar barat Jakarta yang saat ini kondisi sudah padat, baik kawasan permukiman, industry, dan pusat perdagangan.
“Sekarang ini jalan lingkar barat Jakarta, baik tol maupun non tol sudah padat seiring dengan perkembangan kawasan baik perumahan, industri serta pusat perdagangan,” katanya.