Berdasarkan pantauan, Rabu, kondisi jalan lintas Sumatera ruas Rajabasa-Panjang berdebu tebal yang umumnya berasal dari tanah urukan di sisi jalan lintas itu.
Banyak kendaraan yang memilih melintas di sisi jalan yang belum diaspal itu sehingga debu pekat selalu melingkupi kawasan tersebut.
Debu jalan itu juga menimpa sekolah taman kanak-kanak (TK), rumah sakit, permukiman warga, warung makanan, hotel dan restoran yang terdapat di sepanjang jalan negara itu.
Akibat jalan berdebu itu, banyak warga yang tinggal di sekitar jalan negara itu yang menderita batuk berat.
Kondisi jalan berdebu itu juga mengganggu kelancaran arus kendaraan, seperti jarak pandang pengemudi terhalang debu sehingga mereka harus menjalan kendaraannya perlahan.
Jalan berdebu itu juga merugikan usaha di sepanjang jalan negara itu, seperti warung makanan yang omzetnya menjadi berkurang akibat jumlah pembeli turun drastis.
Jalan lintas Sumtara ruas Rajabasa-Panjang sebenarnya dilebarkan mulai Mei 2011 dengan menggunakan dana pinjaman Bank Dunia sebesar Rp153 miliar. Biaya pelebaran jalan lintas negara itu dipatok Rp240 miliar, namun kontraktor yang melakukan penawaran terendah yang dimenangkan.
Namun kontraktor pemenang pelebaran jalan itu hanya mampu bekerja selama beberapa bulan, seperti menguruk sisi jalan itu dan membongkar tembok rumah sakit RS Imanuel dan bangunan lainnya, kemudian berhenti bekerja karena pailit.
Akibatnya, pelebaran dan perbaikan jalan lintas Sumatera itu tersendat sejak beberapa bulan lalu, dan kondisi jalan itu kini setiap hari selalu berdebu tebal yang berasal dari tanah urukan di sisi jalan tersebut.