
Kereta memiliki keunggulan kapasitas pengangkutan yang lebih besar, sehingga biaya mengantar batu bara seharusnya bisa dibuat lebih murah.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalteng, Tugiyo Wiratmodjo, di Palangkaraya, Kalteng, Senin (30/7/2012), mengatakan, tarif angkutan dengan truk sangat bergantung kesepakatan pengusaha batu bara dengan pemilik kendaraan serta koridor yang ditempuh.
"Namun rata-rata besarnya sekitar Rp 600 per kilogram (kg) per kilometer (km). Kalau rel sudah jadi, pengangkutan dengan kereta harus lebih murah daripada truk," paparnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng berencana membangun rel dari Kabupaten Murung Raya hingga Kabupaten Kapuas.
Rel dengan panjang 185 kilometer (km) itu, diharapkan sudah bisa digunakan pada tahun 2015.
Tugiyo mengatakan, para pengusaha merespons pembangunan rel itu dengan sangat positif dan baik. Perusahaan tambang tak perlu menggunakan jalur pengangkutan nya masing-masing.
Di Kalteng, sejumlah perusahaan penghasil batu bara harus membuat jalan sendiri menuju lokasi tambangnya. Tugiyo menambahkan, pengoperasian rel kereta api juga harus melibatkan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dan koperasi, agar mereka tak terabaikan.
"Pengelolaan rel akan dilakukan perusahaan besar. Jangan sampai itu tidak menguntungkan sektor UKM dan koperasi," kata Tugiyo.
Sumber: Kompas