LAMPUNG - Para pemudik dari Pulau Jawa yang masuk
Lampung dan hendak melintasi Jalan Soekarno-Hatta (bypass) di ruas
Bandar Lampung perlu ekstra waspada, atau sebaiknya mencari jalur
alternatif.
Pasalnya, perbaikan sementara yang belum rampung di ruas jalan
sepanjang 18,1 kilometer (km) tersebut, masih menyisakan tebaran
kerikil, kabut debu, lubang-lubang serta jalan bergelombang.
Gabungan semua hal itu, selain mengganggu kenyamanan berkendara, juga
berpotensi membahayakan keselamatan para pemudik yang melintasinya.
Buruknya kondisi jalan yang membentang mulai dari Lapangan Baruna,
Panjang hingga Tugu Radin Intan, Rajabasa itu juga menyebabkan waktu
tempuh kendaraan menjadi lebih lama, laju kendaraan, dan arus lalu
lintas tersendat.
Saat menelusuri ruas tersebut kondisi perbaikan di ruas jalan
negara itu belum menunjukkan perubahan signifikan. Lubang yang sudah
ditambal baru terdapat di sekitar depan kantor DPD PDI Perjuangan
Lampung (Kedaton), simpang Kali Balok (Sukabumi), dan simpang PJR.
Selebihnya, kondisi berlubang dan bergelombang masih banyak ditemukan
di sepanjang jalan yang baru ditimbun kerikil dan abu batu. Kondisi
tersebut juga memaksa kendaraan dilajukan lebih lambat, sehingga waktu
tempuh menjadi lebih lama dari seharusnya.
Pada suasana jalan yang relatif lengang pada pukul 05.30 WIB, dengan
kecepatan sekitar 60-70 km/jam, waktu tempuh kendaraan pribadi roda
empat untuk jarak Kalianda-Tugu Raden Intan, Rajabasa sepanjang 65 km
mencapai 70 menit.
Dari waktu tersebut, hampir separuhnya (25-30 menit) dihabiskan hanya
untuk melewati jalan rusak yang membentang dari Lapangan Baruna-Tugu
Raden Intan (18,1 km). Sedangkan untuk menempuh Kalianda hingga Panjang
yang jaraknya lebih jauh yakni sekitar 45 km hanya dibutuhkan waktu
sekitar 40-45 menit.
Bagi pemudik yang hendak menghindari kerusakan jalan di By Pass, ada
dua jalur alternatif yang bisa digunakan. Alternatif pertama dengan
masuk ke jalan dalam kota Bandar Lampung mulai dari Lapangan Baruna,
lalu ke Telukbetung Selatan, hingga tembus ke Rajabasa.
Alternatif kedua, menggunakan jalur lintas pantai timur sejak keluar
dari Pelabuhan Bakauheni, dengan tujuan Lampung Timur, Metro, Lampung
Tengah, dan Tulangbawang.