Atasi Macet Jakarta

12:02
 
Meski berbagai upaya sudah dilakukan, masalah kemacetan di Jakarta belum juga bisa teratasi. Salah satu ide berani namun dinilai masih masuk akal adalah pengembangan mobil terbang. Lebih murah ketimbang mobil supermewah, namun masih tak berdaya dihadang kemacetan.

Salah seorang yang menyatakan dukungannya pada ide pengembangan mobil terbang ini adalah Didied Mahaswara. Pengamat masalah sosial Ketua Forum The President Center ini menyatakan, bila Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya bersemangat memproduksi mobil Esemka, lalu Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dengan mobil listrik, kini Jakarta juga sudah saatnya dibuka jalur mobil terbang.

Hingga kini, setidaknya sudah ada 10 model mobil terbang yang diciptakan, namun belum dikembangkan secara massal.

Daripada mereka yang kaya raya itu beli mobil mewah hingga miliaran lebih namun masih kena macet juga, mending yang bisa terbang aja sekalian, cetusnya.

Mobil terbang, jelas Didied, saat ini sudah dibuat di banyak negara. Di antaranya China, Belanda, Amerika, Rusia dan Inggris. Bahkan mobil-mobil tersebut sudah bisa dipesan langsung dengan harga berkisar antara Rp 1,75 miliar hingga Rp 2,5 miliar.

Didied yang juga Ketua Forum The President Center ini mengakui, harga mobil terbang memang tergolong mahal. Namun, dia mengingatkan, sebenarnya tidak sedikit para pengusaha kaya Indonesia yang memiliki mobil mewah seharga di atas Rp 3 miliar.

Soal kecepatan, sebuah mobil terbang seperti sebuah helicopter produksi perusahaan asal Belanda, PAL-V, yang bisa terbang hingga sejauh 507 kilometer (km) dengan kecepatan 176,99 km per jam. PAL-V juga bisa berubah menjadi  gyrocopter. Artinya, bisa terbang hanya dengan sebuah baling-baling yang terpasang di atas badan mobil, sementara sebuah baling-baling di belakang buntutnya berguna untuk mendorongnya ketika terbang.

PAL-V, yang merupakan kepanjangan Personal Air and Land Vehicle, jelas Didied, juga bisa melesat dengan kecepatan 180 km per jam di darat, tidak begitu berbeda dengan kecepatan maksimalnya di udara. Ketika sedang berkendara di darat, baling-baling pada mobil itu bisa dilipat sehingga memudahkannya melaju layaknya sebuah sports car, meski hanya dengan tiga roda.

Kebayang kan, bila misalnya kita mau terbang melewati gunung, kita bisa melakukannya dan setelah itu kembali berkendara di darat dengan aman. Atau terbang melewati sungai atau tentu saja mengatasi kemacetan lalu- lintas, kata Didied.

Karena putaran baling-baling lebih pelan, PAL-V mengeluarkan bunyi yang kurang bising ketimbang helikopter. Karena bisa mengatasi kemacetan di Jakarta, dia berharap para pengambil kebijakan, termasuk para pengusaha, berpikir ke arah ini.

Selain PAL-V, ujarnya, perusahaan lainnya yang bergerak di bidang teknologi, Moller International, juga mengembangkan hal yang sama. Mobil terbang perusahaan yang satu ini dinamankan Skycar. Bahkan, sebagaimana yang sudah diberitakan secara luas, menurut Didied, mobil terbang ini tak hanya dinikmati orang kaya saja.

Moller, katanya, telah mengajak Athena Technologies, perusahaan asal California Selatan, AS, untuk menawarkan produksi jumlah yang besar dan bisa mendekatkan produk ke pasar.

Moller, pengembang Skycar dan pesawat Neuera bersepakat dengan Athena membentuk joint venture yang berbasis di AS. Joint Venture ini untuk membangun co-produksi untuk pesawat di AS dan China.

Direktur Athena Technologies Inc Gong John berharap dapat membangun pabrik pesawat pertama di China. Jenis pesawat yang akan dibuat di Negeri Tirai Bambu itu adalah model Vertikal Take-Off and Landing (VTOL).

Macet Bikin Rugi Rp 186 M Per Hari

Tahukah Anda, berapa biaya sosial masyarakat akibat kemacetan di Jakarta dan sekitarnya? Luar biasa, mencapai Rp 68 triliun per tahun atau sekitar Rp 186 miliar per hari! Ruaaar biasa....!!!

Jumlah itu, mulai dari biaya bahan bakar, biaya kesehatan hingga polusi udara. Betapa borosnya kita hanya untuk kemacetan harus dikeluarkan sebesar itu, kata Chairman Infrastructure Partnership and Knowledge Centre Harun Al Rasyid Lubis dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Menurutnya, saat ini di Jakarta, sebanyak 5 hingga 10 persen penghasilan keluarga dihabiskan untuk transportasi dan dibutuhkan 100 juta dolar AS untuk biaya pengobatan ISPA (gangguan reproduksi, kanker, paru-paru, serta perubahan genetik) yang disebabkan emisi kendaraan.

Saya mencoba memprediksi kembali estimasi biaya sosial kemacetan di Jakarta itu Rp 68 triliun per tahun atau Rp 186 miliar per hari, katanya.

Jumlah sebesar itu, kata dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, jauh meningkat dibanding 2003 sebesar Rp 17,2 triliun. Ia juga mengatakan, tak hanya di Jakarta, kemacetan pun terjadi di kota-kota besar lain.

Dia mencontohkan, masyarakat kota Bandung pada tahun lalu mengalami kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 5 triliun per tahun atau Rp 14 miliar per hari.

Di mana-mana kemacetan ada, di luar negeri pun ada. Bedanya, kota-kota besar di luar negeri itu kemacetannya bisa dikendalikan, di kita nggak, katanya.

Karena itu, tegas Harun, diperlukan evaluasi menyeluruh yang komprehensif atas ekektivitas perencanaan dan upaya pengembangan sistem transportasi di semua moda, baik jalan baru (tol/non-tol), flyover, pelebaran, peningkatan geometri persimpangan dan lainnya.

Sebagai bagian upaya mengatasi kemacetan ini, Pemprov DKI Jakarta pun akan menggandeng sejumlah pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta untuk ikut mengatasi kemacetan. Caranya, dengan menyediakan lahan parkir bertarif murah untuk kendaraan yang akan parkir selama sehari penuh. Selanjutnya, Pemprov DKI menyediakan bus-bus yang siap mengangkut warga menuju Jakarta.

Untuk tahap awal, Pemprov DKI akan melakukan kerja sama dengan sejumlah pusat perbelanjaan di Bekasi. Kayak di stasiun kereta api. Nanti titip mobil sehari cuma dikenakan Rp 10.000 atau Rp 20.000, kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Nantinya, jelas Ahok, Pemprov DKI akan coba bekerja sama dengan Jasa Marga agar dapat menyediakan jalur khusus bagi bus-bus tersebut di jalan tol. Dengan adanya jalur khusus, diharapkan bus tidak akan terkena macet dan merangsang warga bersedia memarkirkan kendaraannya untuk pindah ke angkutan umum.

Jadi seolah-olah ada busway di tol sehingga orang akan berpikir, daripada gue bawa mobil di tol, macet, mending parkir mobil, terus naik bus, ujar bekas Bupati Belitung Timur ini.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »