Bima - Aksi yang diduga bermotif terorisme kembali memakan korban nyawa
seorang polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kali ini maut
menjemput Kapolsek Ambalawi, bernama AKP Abdul Salam.
"Informasi sementara kejadian di Wera, Kecamatan Ambalawi, Bima pukul 06.00 tadi. Korban meninggal dunia," kata seorang sumber di lingkungan Densus 88/Mabes Polri, Sabtu (16/8)
Saat itu korban melakukan perjalanan ke Mapolsek menggunakan motor dan saat ini jenazah korban dalam penanganan otopsi, sedangkan anggota melakukan olah di tempat kejadian perkara.
Pada 2 Juni lalu Bripka Muhamad Yamin, Kanit Intelkam Polres Bima juga tewas ditembak di dekat rumahnya di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima sekitar pukul 22.10 WITA.
Korban saat itu selesai tugas dan keluar dari rumahnya untuk membeli sesuatu. Sepulangnya, dia diikuti dua orang dan ditembak di bagian kepala, perut, siku, dan leher sehingga meninggal dunia.
Saat kejadian, korban mengenakan baju preman dan diperkirakan pelaku adalah orang yang mengetahui bahwa korban adalah anggota polisi.
Pada 28 Maret lalu juga terjadi penembakan misterius yang menimpa Kasat Narkoba Polres Bima NTB, Ipda Hanafi yang ditembak sekitar pukul 10.55 WITA.
Saat itu korban mengalami dua luka tembak, yaitu di rahang kiri tembus ke kanan dan luka tembak perut dan dirawat di rumah sakit.
Pelaku menguntit korban, dan tiba-tiba pelaku pembonceng menodongkan pistol ke arah korban dan meletus dua kali.
Sebelumnya penyidik Densus 88/Antiteror menduga jika kasus ini bisa jadi bermotif teror karena sejumlah pelaku teror yang berlatih di Poso, Sulawesi Tengah bersama jaringan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso diketahui berasal dari Bima.
Kapolri Jenderal Sutarman saat itu mengamini bisa jadi pelaku penembakan di Bima adalah kelompok teroris.
"Densus belakangan ini menangkap 11 pelaku teror sebelum mereka menyerang. Target teroris itu dulu adalah simpul asing, tapi yang jadi target sekarang adalah anggota Polri karena kita dianggap penghalang," bebernya kala itu.
Belum ada kasus penembakan tersebut yang terungkap.
"Informasi sementara kejadian di Wera, Kecamatan Ambalawi, Bima pukul 06.00 tadi. Korban meninggal dunia," kata seorang sumber di lingkungan Densus 88/Mabes Polri, Sabtu (16/8)
Saat itu korban melakukan perjalanan ke Mapolsek menggunakan motor dan saat ini jenazah korban dalam penanganan otopsi, sedangkan anggota melakukan olah di tempat kejadian perkara.
Pada 2 Juni lalu Bripka Muhamad Yamin, Kanit Intelkam Polres Bima juga tewas ditembak di dekat rumahnya di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima sekitar pukul 22.10 WITA.
Korban saat itu selesai tugas dan keluar dari rumahnya untuk membeli sesuatu. Sepulangnya, dia diikuti dua orang dan ditembak di bagian kepala, perut, siku, dan leher sehingga meninggal dunia.
Saat kejadian, korban mengenakan baju preman dan diperkirakan pelaku adalah orang yang mengetahui bahwa korban adalah anggota polisi.
Pada 28 Maret lalu juga terjadi penembakan misterius yang menimpa Kasat Narkoba Polres Bima NTB, Ipda Hanafi yang ditembak sekitar pukul 10.55 WITA.
Saat itu korban mengalami dua luka tembak, yaitu di rahang kiri tembus ke kanan dan luka tembak perut dan dirawat di rumah sakit.
Pelaku menguntit korban, dan tiba-tiba pelaku pembonceng menodongkan pistol ke arah korban dan meletus dua kali.
Sebelumnya penyidik Densus 88/Antiteror menduga jika kasus ini bisa jadi bermotif teror karena sejumlah pelaku teror yang berlatih di Poso, Sulawesi Tengah bersama jaringan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso diketahui berasal dari Bima.
Kapolri Jenderal Sutarman saat itu mengamini bisa jadi pelaku penembakan di Bima adalah kelompok teroris.
"Densus belakangan ini menangkap 11 pelaku teror sebelum mereka menyerang. Target teroris itu dulu adalah simpul asing, tapi yang jadi target sekarang adalah anggota Polri karena kita dianggap penghalang," bebernya kala itu.
Belum ada kasus penembakan tersebut yang terungkap.