
NTMC – Belum habis berita hilangnya pesawat MAS MH 370, dunia kembali dikejutkan dengan berita Pada hari Kamis, 17 Juli 2014 tentang sebuah pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 017 rute Amsterdam – Kuala Lumpur yang hilang kontak pada pukul 14.15 GMT pada ketinggian 30.000 kaki, dan diduga jatuh tertembak rudal darat ke udara di sebelah Timur Ukraina dekat perbatasan Rusia pada hari kamis tanggal 17 Juli 2014.
Manifest pesawat menunjukkan terdapat 283 orang penumpang ditambah 15orang awak pesawat, sehingga keseluruhan terdapat 298 orang di dalam pesawat MH017, tercatat 11 kewarganegaraan terdiri dari Australia, Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Inggris, Jerman, Kanada, Malaysia, New Zealand, Philipina, termasuk Warga Negara Indonesia sebanyak 12 orang.
Upaya pencarian korban jatuhnya pesawat bergerak sangat cepat dari waktu ke waktu, dikarenakan perkembangan situasi keamanan TKP yang terletak di wilayah kekuasaan pemberontak anti Pemerintah Ukraina, namun demikian Tim SAR Ukraina dibantu sukarelawan setempat berhasil menemukan rongsokan pesawat yang diduga pesawat MAS MH017 beserta ratusan tubuh/potongan tubuh manusia di desa Grabovo di bagian timur wilayah Ukraina, yang tersebar pada area dengan diameter sekitar 15 km yang kemudian dikumpulkan dalam gerbong kereta api berpendingin di kota Donetsk.
Berdasarkan pertimbangan keamanan dan banyaknya warga negara Belanda yang menjadi korban, maka pemerintah Belanda berupaya agar proses identifikasi dapat dilakukan di Belanda, sehingga sejak tanggal 23 Juli 2014 jenazah mulai dievakuasi ke Korporaal van Oudheusden barracks, sebuah Pusat Pendidikan Kesehatan Militer di Hilversum – Belanda.
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai upaya perlindungan, pengayoman, danpelayanan bagi warga negara Indonesia yang menjadi korban, dengan difasilitasi oleh Divisi Hubungan Internasional Polri dan bekerjasama dengan Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, maka pada tanggal 22 Juli 2014 atas Perintah Kapolri diberangkatkan Tim DVI Nasional terdiri dari 6 orang yang terdiri dari seorang DVI Commander, 2 forensic pathologist, 2 forensic odontologist, dan 1 DNA expert untuk bergabung dengan Komunitas DVI Internasional di Hilversum dalam rangka melakukan identifikasi seluruh jazad korban kecelakaan pesawat MH 017, meskipun Tim Antemortem yang disiapkan Komite DVI Nasional Indonesia telah lebih dulu mengumpulkan data Antemortem termasuk sampling DNA pembanding sejak tanggal 18 Juli 2014 setelah adanya kepastian informasi identitas WNI yang menjadi penumpang MH 017 sebagai bahan pembanding untuk kepentingan identifikasi.
Sesungguhnya sesuai dengan tugas pokoknya untuk kepentingan penegakan hukum dan kemanusiaan, Tim DVI Indonesia yang dikirimkan menyandang 2 tugas penting, yakni untuk melaksanakan tugas investigasi tertuju kepada penyebab terjadinya kecelakaan pesawat, dan tugas identifikasi terhadap seluruh jasad korban yang ditemukan, karenanya direncanakan Tim untuk menuju TKP di Ukraina, namun dikarenakan alasan keamanan dan misi yang lebih penting untuk mengidentifikasi korban WNI, maka ditetapkan bahwa Tim akan berkonsentrasi melaksanakan tugas identifikasi di Hilversum – Belanda.
Keseluruhan Operasi DVI Internasional dipusatkan di Korporal van Oudheusden Barracks dipimpin oleh DVI Commander Belanda sebagai tuan rumah, didukung oleh Jajaran Interpol DVI Standing Committee, beserta anggota tim yang berasal dari negara-negara Belanda, Malysia, Jerman, United Kingdom, Belgia, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, dan Indonesia menyelenggarakan pemeriksaan Postmortem, pendataan Antemortem, rekonsiliasi dan board meeting, di bawah pengamanan internal yang sangat ketat, serta dukungan logistik termasuk akomodasi dan konsumsi yang lengkap.
Antemortem
Kegiatan Antemortem sudah dimulai Komite DVI Nasional Indonesia sejak beredarnya informasi hilangnya pesawat MAS MH 017 pada tanggal 17 Juli 2014, segera melakukan langkah – langkah antisipasi, dengan difasilitasi Divisi Hubungan Internasional Polri, berkoordinasi dengan Direktorat PWNI Kemlu RI, KBRI di Kualalumpur, KBRI di Kiev (Ukraina), dan KBRI di Den Haag khususnya dengan Atase Kepolisian RI, sehingga diperoleh manifest pesawat (daftar penumpang) MAS MH 017 tanggal 17 Juli 2014, dan disimpulkan terdapat 12 penumpang WNI yang berasal dari Jakarta sebanyak 8 orang, Sumatra Utara sebanyak 1 orang, Jawa Tengah sebanyak 1 orang, dan Bali sebanyak 2 orang.
Sebagai tindak lanjut, Biddokkes Polda Metro Jaya, Biddokkes Polda Sumatra Utara, Biddokkes Polda Jawa Tengah, dan Biddokkes Polda Bali, di bawah koordinasi Komite DVI Nasional segera membentuk Tim Antemortem untuk mengumpulkan data Antemortem (yellow form) beserta berbagai data pendukungnya antara lain berupa dental record, sampel DNA pembanding, serta data sidik jari dari database e KTP yang difasilitasi oleh Pusinafis Polri.
Tim DVI Indonesia berangkat ke Hilversum dengan membawa 11 dari 12 data AM, kecuali 1 orang WNI yang memang berdomisili di Amsterdam. Pendataan Antemortem dilaksanakan secara komprehensif melalui kerjasama yang solid antar Tim DVI masing – masing negara termasuk dukungan Familie Reserse Belanda yang membantu melengkapi data Antemortem WNI khususnya yang berdomisili di Belanda ataupun yang mempunyai kerabat dekat yang berdomisili di Belanda, sehingga secara keseluruhan Tim berhasil mengumpulkan data Antemortem dari 298 penumpang pesawat MAS MH 017 dari seluruh negara terkait, untuk selanjutnya seluruh hasilnya berupa data tulisan maupun gambar dikumpulkan di dalam server PLASS DATA.
Sebagian dari penumpang WNI MH 017 berdomisili di Belanda ataupun memiliki kerabat dekat yang berdomisili di Belanda, serta dalam waktu cukup lama tidak berada di Indonesia, karenanya terdapat data Antemortem yang harus dilengkapi melalui kerjasama dengan pihak Kepolisian Belanda yang mengerahkan “Family Reserse” untuk mengumpulkan data Antemortem dari seluruh korban yang berdomisili di Belanda ataupun yang mempunyai keterkaitan dengan keluarga dekat mereka di Belanda, sehingga dapat diperoleh data Antemortem yang komprehensif untuk melengkapi semaksimal mungkin pertanyaan ataupun isian yang tertera dalam formulir Antemortem model Interpol atau “yellow form”.
Postmortem
Tim DVI Internasional berasal dari berbagai negara di bawah koordinasi DVI Commander Belanda, bekerjasama erat membangun sistem kerjasama operasi DVI phase Postmortem yang sangat solid namun fleksibel yang dievaluasi secara berkesinambungan, didukung oleh sistem kesehatan dan keselamatan kerja yang komprehensif mengerahkan tim CBRN yang memantau konsentrasi bahan – bahan berbahaya dalam menentukan zona – zona keamanan serta menentukan batas – batas wilayah kerja dimana para operator wajib memanfaatkan alat pelindung diri yang sesuai.
Kegiatan Postmortem didukung oleh ruang kerja yang memadai, meliputi lapangan terbuka tempat penyimpanan 20 kontainer pendingin ukuran 40 feet tempat penyimpanan jenazah, peralatan triage meliputi peralatan X-ray dari Bea cukai Belanda untuk memantau isi peti jenazah dan MSCT mendeteksi kemungkinan terdapatnya benda asing di dalam jazad korban sekaligus penyimpanan gambar pencitraan digital, serta ruangan mortuary tempat tergelarnya 5 jalur pemeriksaan Postmortem, yang masing – masing terdiri atas 5 kelompok, dimana dilakukan pemeriksaan Postmortem dan dokumentasinya meliputi pemeriksaan sidik jari, pemeriksaan fisik, pencatatan properti, pengambilan sampel DNA, pemeriksaan odontologi, dan Quality assurance.
Manifest pesawat menunjukkan terdapat 283 orang penumpang ditambah 15orang awak pesawat, sehingga keseluruhan terdapat 298 orang di dalam pesawat MH017, tercatat 11 kewarganegaraan terdiri dari Australia, Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Inggris, Jerman, Kanada, Malaysia, New Zealand, Philipina, termasuk Warga Negara Indonesia sebanyak 12 orang.
Upaya pencarian korban jatuhnya pesawat bergerak sangat cepat dari waktu ke waktu, dikarenakan perkembangan situasi keamanan TKP yang terletak di wilayah kekuasaan pemberontak anti Pemerintah Ukraina, namun demikian Tim SAR Ukraina dibantu sukarelawan setempat berhasil menemukan rongsokan pesawat yang diduga pesawat MAS MH017 beserta ratusan tubuh/potongan tubuh manusia di desa Grabovo di bagian timur wilayah Ukraina, yang tersebar pada area dengan diameter sekitar 15 km yang kemudian dikumpulkan dalam gerbong kereta api berpendingin di kota Donetsk.
Berdasarkan pertimbangan keamanan dan banyaknya warga negara Belanda yang menjadi korban, maka pemerintah Belanda berupaya agar proses identifikasi dapat dilakukan di Belanda, sehingga sejak tanggal 23 Juli 2014 jenazah mulai dievakuasi ke Korporaal van Oudheusden barracks, sebuah Pusat Pendidikan Kesehatan Militer di Hilversum – Belanda.
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai upaya perlindungan, pengayoman, danpelayanan bagi warga negara Indonesia yang menjadi korban, dengan difasilitasi oleh Divisi Hubungan Internasional Polri dan bekerjasama dengan Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, maka pada tanggal 22 Juli 2014 atas Perintah Kapolri diberangkatkan Tim DVI Nasional terdiri dari 6 orang yang terdiri dari seorang DVI Commander, 2 forensic pathologist, 2 forensic odontologist, dan 1 DNA expert untuk bergabung dengan Komunitas DVI Internasional di Hilversum dalam rangka melakukan identifikasi seluruh jazad korban kecelakaan pesawat MH 017, meskipun Tim Antemortem yang disiapkan Komite DVI Nasional Indonesia telah lebih dulu mengumpulkan data Antemortem termasuk sampling DNA pembanding sejak tanggal 18 Juli 2014 setelah adanya kepastian informasi identitas WNI yang menjadi penumpang MH 017 sebagai bahan pembanding untuk kepentingan identifikasi.
Sesungguhnya sesuai dengan tugas pokoknya untuk kepentingan penegakan hukum dan kemanusiaan, Tim DVI Indonesia yang dikirimkan menyandang 2 tugas penting, yakni untuk melaksanakan tugas investigasi tertuju kepada penyebab terjadinya kecelakaan pesawat, dan tugas identifikasi terhadap seluruh jasad korban yang ditemukan, karenanya direncanakan Tim untuk menuju TKP di Ukraina, namun dikarenakan alasan keamanan dan misi yang lebih penting untuk mengidentifikasi korban WNI, maka ditetapkan bahwa Tim akan berkonsentrasi melaksanakan tugas identifikasi di Hilversum – Belanda.
Keseluruhan Operasi DVI Internasional dipusatkan di Korporal van Oudheusden Barracks dipimpin oleh DVI Commander Belanda sebagai tuan rumah, didukung oleh Jajaran Interpol DVI Standing Committee, beserta anggota tim yang berasal dari negara-negara Belanda, Malysia, Jerman, United Kingdom, Belgia, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, dan Indonesia menyelenggarakan pemeriksaan Postmortem, pendataan Antemortem, rekonsiliasi dan board meeting, di bawah pengamanan internal yang sangat ketat, serta dukungan logistik termasuk akomodasi dan konsumsi yang lengkap.
Antemortem
Kegiatan Antemortem sudah dimulai Komite DVI Nasional Indonesia sejak beredarnya informasi hilangnya pesawat MAS MH 017 pada tanggal 17 Juli 2014, segera melakukan langkah – langkah antisipasi, dengan difasilitasi Divisi Hubungan Internasional Polri, berkoordinasi dengan Direktorat PWNI Kemlu RI, KBRI di Kualalumpur, KBRI di Kiev (Ukraina), dan KBRI di Den Haag khususnya dengan Atase Kepolisian RI, sehingga diperoleh manifest pesawat (daftar penumpang) MAS MH 017 tanggal 17 Juli 2014, dan disimpulkan terdapat 12 penumpang WNI yang berasal dari Jakarta sebanyak 8 orang, Sumatra Utara sebanyak 1 orang, Jawa Tengah sebanyak 1 orang, dan Bali sebanyak 2 orang.
Sebagai tindak lanjut, Biddokkes Polda Metro Jaya, Biddokkes Polda Sumatra Utara, Biddokkes Polda Jawa Tengah, dan Biddokkes Polda Bali, di bawah koordinasi Komite DVI Nasional segera membentuk Tim Antemortem untuk mengumpulkan data Antemortem (yellow form) beserta berbagai data pendukungnya antara lain berupa dental record, sampel DNA pembanding, serta data sidik jari dari database e KTP yang difasilitasi oleh Pusinafis Polri.
Tim DVI Indonesia berangkat ke Hilversum dengan membawa 11 dari 12 data AM, kecuali 1 orang WNI yang memang berdomisili di Amsterdam. Pendataan Antemortem dilaksanakan secara komprehensif melalui kerjasama yang solid antar Tim DVI masing – masing negara termasuk dukungan Familie Reserse Belanda yang membantu melengkapi data Antemortem WNI khususnya yang berdomisili di Belanda ataupun yang mempunyai kerabat dekat yang berdomisili di Belanda, sehingga secara keseluruhan Tim berhasil mengumpulkan data Antemortem dari 298 penumpang pesawat MAS MH 017 dari seluruh negara terkait, untuk selanjutnya seluruh hasilnya berupa data tulisan maupun gambar dikumpulkan di dalam server PLASS DATA.
Sebagian dari penumpang WNI MH 017 berdomisili di Belanda ataupun memiliki kerabat dekat yang berdomisili di Belanda, serta dalam waktu cukup lama tidak berada di Indonesia, karenanya terdapat data Antemortem yang harus dilengkapi melalui kerjasama dengan pihak Kepolisian Belanda yang mengerahkan “Family Reserse” untuk mengumpulkan data Antemortem dari seluruh korban yang berdomisili di Belanda ataupun yang mempunyai keterkaitan dengan keluarga dekat mereka di Belanda, sehingga dapat diperoleh data Antemortem yang komprehensif untuk melengkapi semaksimal mungkin pertanyaan ataupun isian yang tertera dalam formulir Antemortem model Interpol atau “yellow form”.
Postmortem
Tim DVI Internasional berasal dari berbagai negara di bawah koordinasi DVI Commander Belanda, bekerjasama erat membangun sistem kerjasama operasi DVI phase Postmortem yang sangat solid namun fleksibel yang dievaluasi secara berkesinambungan, didukung oleh sistem kesehatan dan keselamatan kerja yang komprehensif mengerahkan tim CBRN yang memantau konsentrasi bahan – bahan berbahaya dalam menentukan zona – zona keamanan serta menentukan batas – batas wilayah kerja dimana para operator wajib memanfaatkan alat pelindung diri yang sesuai.
Kegiatan Postmortem didukung oleh ruang kerja yang memadai, meliputi lapangan terbuka tempat penyimpanan 20 kontainer pendingin ukuran 40 feet tempat penyimpanan jenazah, peralatan triage meliputi peralatan X-ray dari Bea cukai Belanda untuk memantau isi peti jenazah dan MSCT mendeteksi kemungkinan terdapatnya benda asing di dalam jazad korban sekaligus penyimpanan gambar pencitraan digital, serta ruangan mortuary tempat tergelarnya 5 jalur pemeriksaan Postmortem, yang masing – masing terdiri atas 5 kelompok, dimana dilakukan pemeriksaan Postmortem dan dokumentasinya meliputi pemeriksaan sidik jari, pemeriksaan fisik, pencatatan properti, pengambilan sampel DNA, pemeriksaan odontologi, dan Quality assurance.
Tim Postmortem berhasil melakukan pemeriksaan terhadap 228 peti jenazah yang dikirimkan dari TKP, menghasilkan pemeriksaan Postmortem terhadap 176 complete bodies dan 527 incomplete bodies atau body fragments, sehingga total dihasilkan 703 pemeriksaan Postmortem dilanjutkan dengan pemeriksaan Laboratorium DNA, kemudian seluruh hasil pemeriksaan Postmortem berupa data tulisan maupun gambar didatakan dalam digital pink form untuk kemudian disimpan dalam server PLASS DATA.
Tim DVI Indonesia memperkuat tim Postmortem dengan mengerahkan 2 forensic pathologist, 2 forensic odontologist, dan 1 DNA expert, serta memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan operasi DVI secara keseluruhan melalui penerapan sistem kerja/operasional DVI, perkuatan tim forensic odontology, serta metode khusus sampling DNA.
Rekonsiliasi
Setelah cukup banyak data terkumpul dalam servem PLASS DATA, maka Tim Rekonsiliasi yang terdiri dari berbagai expert DVI sesuai bidang keilmuan masing – masing mulai bekerja mencocokkan data Antemortem dan data Postmortem, dimulai dengan pengidentifikasi primer (primary identifier) dengan pembandingan dental record, dan sidik jari, serta pengidentifikasi sekunder (secondary identifier) berupa ciri fisik, dan properti, sambil menunggu hasil pemeriksaan DNA yang dilaksanakan di NFI (Nederlands Forensisch Instituut).
Proses rekonsiliasi secara ilmiah mengerucutkan data – data Antemortem dan Postmortem yang terkumpul dalam server PLASS DATA kepada identitas orang hilang tertentu atau penumpang MH 017, hingga diperoleh kesimpulan teridentifikasinya individu tertentu sesuai kaidah keilmuan yang dianut dalam DVI Interpol Guideline.
Hasil rekonsiliasi merupakan “Keterangan Ahli” yang kemudian diterjemahkan oleh penyidik kepolisian menjadi suatu “Berita Acara” atau “Comparison Report” sebagai suatu kesimpulan sekaligus hasil analisis pembandingan yang didasari keterangan ahli, untuk selanjutnya dipresentasikan dan mendapat pengesahan untuk mendapat kekuatan hukum dalam “Board of Identification” yang terdiri dari Pimpinan operasi DVI, para team leader yang ditunjuk, dan Jaksa atau Prosecutor.
Menjelang berakhirnya masa tugas Tim DVI Indonesia, tim rekonsiliasi telah berhasil mengidentifikasi 2 dari 12 WNI penumpang MH 017 berdasarkan pembandingan dental record dan sidik jari.
Repatriasi
Proses repatriasi dilakukan oleh sebuah perusahaan pemulasaraan jenazah swasta “Blake Emergency Service” serta merupakan tahap akhir pengembalian jenazah kepada ahli waris atau “Next of Kin” yang menentukan dimana jenazah akan dimakamkan.
Keuntungan
Operasi DVI terhadap korban kecelakaan pesawat MAS MH 017 merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk terlibat dalam salah satu Operasi DVI Internasional terbaik didunia, dimana Tim DVI Indonesia mampu menerapkan koordinasi tripartit antara Polri, Kemlu, dan para ahli DVI dalam suatu event internasional, serta menguji pengalaman dan teknik pemeriksaan DVI Indonesia, dan pada akhirnya membangun citra positif terhadap Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Kesimpulan dan Saran
Operasi DVI terhadap korban kecelakaan pesawat MAS MH 017 mempunyai beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan operasi serupa di masa mendatang, dimana pengumpulan data Antemortem terkendala pada sikap kooperatif kerabat atau keluarga korban, sementara kurang tersedianya perlengkapan modern dan piranti lunak yang sudah merupakan standar bagi kegiatan DVI internasional seperti alat pelindung diri (APD) dan PLASS Data beserta perlengkapan pendukungnya sudah merupakan suatu kebutuhan dasar dalam penyelenggaraan operasi DVI berikut, dan yang sangat mendasar adalah tidak tersedianya anggaran siap pakai bagi kegiatan DVI Indonesia dalam suatu kegiatan kontinjensi atau event internasional.
Karenanya perlu peningkatan kemampuan DVI Indonesia khususnya di bidang pendataan Antemortem melalui sosialisasi internal, maupun external termasuk mengaktifkan dukungan Polmas maupun Babinkamtibmas serta perlu adanya dukungan pihak Reserse untuk memenuhi azas legalitas, serta adanya dukungan logistik yang memenuhi standar internasional seperti Alat Pelindung Diri yang optimal sesuai dengan hakekat ancamannya, dan piranti lunak PLASS DATA yang sudah merupakan standar baku internasional, dan akhirnya diperlukan anggaran khusus untuk operasi DVI serupa di masa mendatang.
Penutup
Demikian Tim DVI Indonesia mengakhiri masa tugasnya selama 20 hari di Hilversum dalam rangka menyelenggarakan misi kemanusiaan sebagai bagian dari tugas Polri untuk melindungi, melayani, dan mengayomi masyarakat dalam rangka mengidentifikasi korban kecelakaan pesawat MAS MH 017 yang jatuh di desa Grabovo – Ukraina, telah menyelesaikan seluruh kegiatan Postmortem dan Antemortem serta mengikuti sebagian kegiatan Rekonsiliasi, untuk selanjutnya menyerahkan tanggung jawab monitoring kepada Atase Kepolisian di KBRI Den Haag dalam rangka mendukung proses repatriasi atau pengembalian jenazah WNI yang teridentifikasi kepada keluarga dengan difasilitasi oleh Kemlu RI dan KBRI Den Haag bekerjasama dengan tim DVI di Hilversum, dan Maskapai penerbangan MAS.
Sumber: NTMCPOLRI.Info