Kemacetan di Riau Hingga Kejalur Alternatif

13:11
PEKANBARU - Sedikitnya lebih dari 300 unit sepeda motor dan 80 mobil terjual setiap harinya oleh dealer kendaraan roda dua maupun empat yang beroperasi di Pekanbaru. Sayangnya pertumbuhan laju kendaraan bermotor tak berbanding lurus dengan pertambahan panjang jalan.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh bagian penomoran BPKB, Ditlantas Polda Riau, pada Oktober lalu, sebanyak 9.432 kendaraan roda dua terdaftar untuk mendapatkan BPKB. 

Sementara untuk kendaraan roda empat, berdasarkan data yang sama, terdaftar sebanyak 2.641 unit.

Sementara, pada bulan sebelumnya, jumlah kendaraan roda dua yang terdaftar di bagian penomoran BPKB jauh lebih banyak. Selama September, tercatat sebanyak 9.809 unit sepeda motor dilepas kepasaran di Pekanbaru. Sedangkan jumlah kendaraan jenis mobil pada bulan ini tidak sebanyak Oktober. Tercatat hanya 2.091 mobil yang dilepas kepasaran.

Pada 2011, hingga Oktober, jumlah tertinggi kendaraan yang dilepas kepasaran terjadi pada Agustus. Sebanyak 10.956 sepeda motor dan 2.941 mobil membanjiri Pekanbaru ketika itu.

"Pembelian kendaraan bermotor biasanya akan meningkat pada saat menjelang lebaran," kata Bagian Penomoran BPKB Kendaraan Baru Dit Lantas Polda Riau, Bripka Hendri.

Meski distribusi pembelian kendaraan bermotor tersebut untuk seluruh Riau, namun sebagian besar dibeli warga Kota Bertuah. Dampaknya, jalanan di Pekanbaru tampak penuh sesak pada jam-jam tertentu, seperti jam pergi kerja/sekolah, istirahat, maupun jam pulang kerja/sekolah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pekanbaru, Dedi Gusriadi kepada Tribun mengakui pembangunan dan pengembangan jalan di Pekanbaru tidak seimbang dengan perkembangan jumlah kendaraan dan perkembangan kota.

Ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan dan jalan di Pekanbaru ini akhirnya mengakibatkan kepadatan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan. Menurut Dedi, pembangunan jalan, baik pelebaran maupun penambahan panjang jalan ini tidak bisa mengimbangi pertumbuhan laju kendaraan dikarenakan keterbatasan anggaran.

Setiap tahun, pihaknya selalu mengajukan permohonan danan untuk penambahan panjang dan lebar jalan. Namun yang disetujui hanya sebagian saja.

kemacetan memang terjadi di beberapa titik ruas jalan. Bahkan di jalan arteri maupun alternatif sekalipun.

Di Jalan Lembaga Pemasyarakatan misalnya. Pada jam-jam tertentu, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja serta makan siang, kepadatan arus lalu lintas di ruas jalan ini tak bisa dihindari.

Pembangunan fly over membuat pengendara yang biasa melewati Jalan Imam Munandar menjadikan jalan ini sebagai alternatif menuju kota. Tak pelak, kondisi lalu lintas di jalan ini pun menjadi sangat padat.

Keadaan tersebut diperparah dengan budaya tidak mau mengalah dalam berkendara. Pantauan Tribun, tidak jarang kemacetan terjadi karena pengendara dari Jalan Pengayoman yang hendak menuju jalan ini tidak sabar menunggu arus kendaraan di Jalan Lembaga Pemasyarakatan sedikit berkurang.

Keadaan serupa juga terjadi di Simpang Jalan Imam Munandar - Jalan Kelapa Sawit. Kemacetan terjadi hampir setiap hari, terutama pada jam sibuk. Tidak jarang, kendaraan khususnya roda empat, terjebak di simpang jalan ini karena tidak ada pengemudi yang mau mengalah.

Mengetahui simpang Jalan Kelapa Sawit - Jalan Imam Munandar selalu padat. Akhirnya tidak sedikit warga yang memanfaatkan Jalan Kopi sebagai alternatif. Namun karena kondisi jalan kecil dan difungsikan untuk lalu lintas dari dua arah, maka tidak jarang kemacetan juga terjadi di tempat ini. Terutama apabila terjadi simpangan kendaraan roda empat di tikungan. 

Sejahtera
Di sisi lain, kemacetan merupakan salah satu indikator sebuah kota masuk kategori kota besar, dan juga indikator tingginya perkembangan ekonomi. Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat perkotaan, Mardianto Manan.

"Tidak kota besar namanya jika tidak ada macet. Namun, macet itu seharusnya ditanggulangi dengan teknologi dan sumber daya buatan, itulah yang dinamakan rekayasa lalu lintas," ungkap Mardianto.

Dari pengamanatannya, macet pada umumnya terjadi di persimpangan, karena persimpangan baik pertigaan atau perempatan merupakan tempat bertemunya beberapa kendaraan berlawanan arah, sehingga terjadi penyempitan.

"Kondisi ini diperparah oleh yang namanya manusia, maunya 
ingin cepat saja tanpa mau mengalah. Juga diperparah oleh tidak ada lampu dan jalan yang sempit. Ditambah lagi jumlah kendaraan di Pekanbaru yang setiap hari bertambah karena orang berlomba untuk membeli kendaraan pribadi," jelas Mardianto.

Larinya masyarakat ke kendaraan pribadi ini menurut Mardianto juga disebabkan berbagai faktor, di antaranya perekonomian yang mapan dan kondisi transportasi umum yang tidak representaif (oplet tidak nyaman, bus kota takut dicopet, taksi mahal), sehingga pelariannya ke mobil pribadi.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »