Tahun 2010, terjadi 1.719 kecelakaan, dan 763 orang harus meregang nyawa akibat kecelakaan lalu lintas (Lakalantas). Angka korban luka berat (cacat permanen, red) mencapai 994 orang dan 1.356 korban lainnya mengalami luka ringan.
Sementara itu, hingga Oktober 2011, Ditlantas Polda Riau telah mencatat sebanyak 1.672 peristiwa laka lantas. Rinciannya 674 korban di antaranya meninggal dunia, 1.176 luka berat dan 1.361 orang luka ringan. Apabila di rata-rata satu tahun adalah 365 hari, maka setiap harinya, dua orang meninggal dunia akibat laka lantas.
Pekanbaru menempati urutan pertama dalam jumlah kasus kecelakaan lalu lintas. Tahun 2010, dari 320 peristiwa Lakalantas, korban meninggal sebanyak 51 orang. Namun untuk korban meninggal, Kabupaten Rokan Hilir menempati urutan tertinggi. Dari total 162 kejadian laka lantas sebanyak 132 orang meregang nyawa.
Sementara pada 2011 ini, angka tertinggi peristiwa laka lantas di Riau tetap berada di Pekanbaru. Hingga Oktober lalu, tercatat sebanyak 205 peristiwa laka lantas terjadi di Pekanbaru dengan korban meninggal dunia sebanyak 52 orang.
Sementara korban meninggal dunia terbanyak akibat laka lantas di Riau hingga Oktober 2011 ini tetap terjadi di Rohil. Dari 183 kejadian, sebanyak 127 orang meregang nyawa karenanya.
Melihat tingginya angka kecelakaan di Riau, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Riau, Kompol Suwoyo, kepada Tribun, Senin (21/11) mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan laka lantas terus meningkat. Pertumbuhan jumlah penduduk dan kendaraan tanpa diimbangi dengan pertambahan panjang jalan menjadi satu di antara sekian banyak penyebab.
Selain itu, 75 persen kejadian laka lantas diakibatkan oleh faktor manusia. Faktor manusia ini, di antarnya adalah kurangnya disiplin dari si pengemudi. Pengetahuan lalu lintas dari pengemudi yang tidak cukup juga turut ambil bagian sebagai faktor penyebab kecelakaan.
"Oleh karena itu, kompetensi pengemudi dalam berlalu lintas juga tidak memadai," katanya.
Faktor lain, jelas Suwoyo adalah kondisi kendaraan. Sistem pengereman kurang baik, kondisi ban yang sudah tipis, cahaya lampu kendaraan yang tidak maksimal dapat mengakibatkan hal yang tidak diinginkan dalam berkendara.
Demikian juga dengan keadaan jalan. Menurutnya, kondisi jalan yang berlubang di sana sini, sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat laka lantas. "Tidak jarang, kecelakaan juga terjadi akibat kondisi cuaca. Misalnya hujan ataupun berkabut," imbuhnya.
Untuk menekan angka laka lantas, menurut Suwoyo, faktor peningkatan kompetensi pengemudi merupakan prioritas utama.
Oleh karenanya, pihaknya terus melakukan edukasi terhadap pengemudi. Tes uji surat izin mengemudi (SIM) dengan benar merupakan satu hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kompetensi pengemudi.
Selain itu, proses penegakkan hukum yang tegas terhadap tindak pelanggaran lalu lintas juga harus dilaksanakan. Mulai dari pemberian tilang, juga penyelesaian penyidikan setiap kejadian laka lantas secara profesional.
Riau, imbuhnya menempati ranking 10 nasional dalam hal laka lantas. Oleh karenanya, agar laka lantas dapat ditekan, Suwoyo mengimbau agar masyarakat selalu tertib dalam berkendara. Setiap orang juga harus ikut menyukseskan program disiplin dalam berlalu lintas.
"Tak kalah penting adalah mari jadikan tertib berlalu lintas menjadi budaya kita," ujarnya.