
“Kalau jam sibuk antrean penumpang bisa sampai keluar shelter. Bahkan sampai jalan penghubung menuju shelter Sudirman,” ujar Bunaya, warga Ragunan.
Situasi tersebut terjadi akibat membludaknya calon penumpang baik yang menuju Pulogadung maupun Ragunan. Ditambah laju TransJakarta yang tersendat arus kendaraan di kawasan Dukuh Atas, sehingga penumpang semakin lama menunggu giliran bus.
Meski shelter Dukuh Atas sering overload, namun Pemprov DKI Jakarta tidak berinisiatif untuk memperluas shelter. Terbukti perluasan shelter TransJakarta malah dilakukan di shelter lain.
Warga berharap agar ke depan, shelter Dukuh Atas diperluas, sehingga bisa menampung semua calon penumpang yang tengah menunggu kedatangan TransJakarta. Selain itu warga juga berharap agar putaran bus kota di kawasan Dukuh Atas ditinjau kembali, mengingat keberadaan bus berukuran besar tersebut menambah kemacetan kawasan Dukuh Atas.
“Kadang untuk berpindah jalur dari Sudirman ke Setiabudi, TransJakarta butuh waktu lebih dari 15 menit. Padahal jarak yang ditempuh tak lebih dari 200 meter,” pungkas Bunaya.
Hal serupa juga terjadi di halte induk Harmoni. Penumpang sangat tidak nyaman karena sempit dan pengab. Belum lagi kali yang sering menyengat hidung. Padahal sering kali warga harus antre lebih dari 30 menit untuk bisa naik busway.
Kesibukan di halte tersebut belakangan ni sangat padat. Untuk itu perlu perluasan. Tidak itu saja. Bau tidak sedap dari kali yang ada di bawahnya harus segera diatasi. Janji Jokowi dan Ahok harus segera direalisasika agar penumpang busway jadi nyaman. “Jangan dong dibarkan manejemnnya seperti manajemen warteg. Kan gitu dulu pernyata Ahok saat kampanye,”gerutu Ida yang sering naik Bus Transjakrta.