Warga Jakarta tampaknya masih harus bersabar untuk bisa melintas di
Jalan Layang Non Tol (JLNT) Tanah Abang-Kampung Melayu. Pasalnya
penyelesaian infrastruktur tersebut masih menunggu kedatangan alat berat
dari Taiwan.
“Pelaksana proyek masih menunggu alatnya dari Taiwan. Kemungkinan
September kita operasikan jalan layang tersebut,” ujar Wakil Gubernur
Ahok, di Balaikota.
Ahok menjelaskan alat berat itu sangat dibutuhkan karena kontraktor
tidak bisa sembarangan melakukan pengecoran jalan. Kondisi jalan di
sepanjang Jalan KH Mas Mansyur, termasuk jalan padat kendaraan bermotor,
terutama pada jam-jam sibuk.
Apabila tidak menggunakan alat berat khusus, maka akan menambah
kemacetan arus lalu lintas di kawasan tersebut. “Alat berat khusus itu
untuk mengecor bagian yang belum dicor. Mereka tidak bisa sembarangan
mengecor pakai alat besar yang bisa bikin macet. Makanya mereka harus
punya alat yang tidak membuat macet di sekitar jalan layang,” katanya.
Pengerjaan proyek ini dimulai tahun 2010 dan dikerjakan dalam
beberapa paket. Paket Casablanca dikerjakan kontraktor PT Wijaya Karya
dan PT Wijaya Konstruksi. Lalu paket Dr Satrio dikerjakan PT Adhi Karya.
Adapun paket Mas Mansyur dikerjakan PT Istaka Karya dan PT Sumber Sari
dengan subkontraktor PT Nindya Karya.
Sementara itu, PT Istaka Karya selaku salah satu kontraktor pembangunan jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, mengkalim pengerjaan jalan layang telah rampung hingga 90 persen. “Saya kira sudah 90 persen. Bagian tengah sudah menyambung. Sekarang lagi pengerjaan tepi kanan kiri jembatan,” kata Firmansyah Ibnu, Project Manager PT Istaka Karya.
Dia membenarkan pihaknya membeli alat berat dari Taiwan dan saat ini
sedang menunggu kedatangan alat berat tersebut. Pembelian alat tersebut
dikarenakan Jalan KH Mas Mansyur sangat sempit, sehingga tidak bisa
menggunakan penyangga yang biasa.
“Jadi jalannya itu sempit. Sehingga tidak bisa menggunakan penyangga
biasa. Jadi kita impor dari Taiwan. Alatnya itu heavy soaring atau
sistem alat penyangga berat. Benar waktunya sebulan. Kita sudah pesan
seminggu lalu,” ujarnya.
Menurutnya, struktur fisik JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang akan
selesai pada September. Di bulan itu dapat dilakukan finishing
pengerjaan fisik seperti pengaspalan jalan, parafet dan pengerjaan
finishing lainnya.
“Jadi secara struktur sekitar 1-2 bulan bisa selesai. Untuk finishing, kira-kira dilakukan bulan September. Itu pun dipotong dengan Lebaran. Tinggal pemasangan juga butuh waktu 1 bulan. Terus finishing dilakukan seperti pengapalan, parafet dan sebagainya. Kita ingin cepat,” tukasnya.
Mengenai masalah administrasi pembayaran hutang Pemprov DKI Jakarta
kepada Istaka Karya, Firmansyah mengungkapkan audit Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) belum keluar. Sambil menunggu audit dari BPK, pembangunan
jalan layang tetap berjalan.