
BOGOR – Meski sering ditertibkan, tapi keberadaan pedagang Kaki-5 di perempatan Ciawi semakin tak terkendali. Pedagang menggelar lapaknya hingga ke bahu jalan sehingga terjadi kemacetan terutama pada sore menjelang malam. Tapi, keberadaan mereka tidaklah gartis, tapi harus bayar ke oknum di Kecamatan Ciawi.
“Zaman sekarang mana ada yang gratis. Buat lapak miiki saya ini yang hanya gerobak berkuran 1×3 m harus bayar Rp 10 ribu per hari buat dagang di kawasan ini,” ujar Sugi, pedagang tas, Minggu. Pedagang lainnya juga mengaku, meski sudah bayar mereka sewaktu-waktu harus rela dan siap dibogkar jika ada penertiban.
“Nah kalau penertiban, kita dikasih tau sehingga tak berdagang atau berjualan di lokasi lain,” timpal Ayun, pedagang pakaian anak-anak. Menurutnya di kawasan ini terdapat sekitar 150-an Kaki-5, mereka menggelar lapak mulai sekitar pk.16:00-22:00. “Sesuai dengan musyawarah beberapa waktu lalu, kita diizinkan berjualan pada jam-jam itu,” tambahnya.
Keberadaan Kaki-5 dikeluhkan sejumlah pengendara baik dari arah Sukabumi atau sebaliknya maupun dari arah Bogor menuju Puncak dan sebaliknya. “Jika ingin melewati kawasan ini jangan di atas pk.16:00, pasti macet. Sudah banyak pedagang, tak ada polisi atau petugas lainnya,” saran seorang pengendara mobil.
Kasi Trantib Kecamatan Ciawi, Masykur membantah jika ada pihaknya melakukan pungutan terhadap Kaki-5 di kawasan ini. “Kalau anggota saya tidak. Jika ada sebutkan namanya, pasti kami tindak. Begitupula dengan pegawai kecamatan. Tapi enggak tahu kalau ormas atau instansi lainnya,” bantahnya.
Tapi diakuinya, pihaknya sulit memnertibkan Kaki-5 di kawasan ini. Semula disepakati Kaki-5 boleh berdagang asal di atas pk.18:30 hingga pk.06:00, namun dilanggar dengan alasan justru pada pk.16:00-18:00 banyak pembelinya. “Ya sudah kita maklumi, mereka juga kan mencari makan,” ucapnya.